oleh

Letjen TNI Djon Afriandi, lulusan terbaik Akmil hingga panglima Kopasus dengan Brevet Langka.

-Update-127 Dilihat

Sorot Hukum com — Jakarta – Nama Djon Afriandi kini berdiri tegak sebagai simbol ketangguhan, kecerdasan, dan dedikasi tanpa batas dalam tubuh Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Sosok Letnan Jenderal TNI ini bukan hanya sekadar prajurit, tetapi representasi nyata dari prajurit paripurna—yang ditempa keras oleh medan tugas, diuji oleh waktu, dan dibuktikan lewat prestasi.

 

Lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, pada 14 Juni 1972, perjalanan hidupnya telah menunjukkan arah yang jelas sejak awal. Saat dinyatakan sebagai lulusan terbaik Akademi Militer tahun 1995 dan meraih penghargaan prestisius Adhi Makayasa, Djon Afriandi sudah menegaskan dirinya sebagai sosok unggul dalam aspek akademik, jasmani, dan kepemimpinan. Penghargaan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan fondasi dari karier panjang yang penuh pengabdian.

 

Karier militernya dimulai dari satuan tempur elit Kopassus, tempat di mana hanya prajurit terbaik yang mampu bertahan. Dari Komandan Peleton hingga berbagai posisi strategis di Grup 1 Kopassus, Djon mengasah naluri tempur, kepemimpinan lapangan, dan strategi operasi. Hampir 14 tahun pengabdiannya di Korps Baret Merah menjadikannya prajurit matang yang tak hanya kuat secara fisik, tetapi juga tajam dalam pengambilan keputusan.

 

Kepercayaan negara terus mengiringi langkahnya. Saat dipercaya bertugas di Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Djon menunjukkan kapasitasnya dalam pengamanan tingkat tinggi, termasuk dalam lingkaran paling vital negara. Sebagai Danden Grup A hingga Wakil Komandan, ia membuktikan dirinya sebagai figur yang presisi, disiplin, dan tak tergoyahkan dalam tekanan.

 

Tak berhenti di sana, wawasan globalnya diperkuat melalui pendidikan di Naval Postgraduate School, Amerika Serikat, dengan gelar Master of Science in Defense Analysis. Kombinasi antara pengalaman tempur dan kecerdasan strategis ini menjadikan Djon sebagai pemimpin modern yang mampu membaca dinamika peperangan dan keamanan masa kini.

 

Kembali ke Kopassus, kariernya terus melesat. Mulai dari Asisten Operasi Danjen Kopassus, Komandan Grup 1, hingga dipercaya berada di lingkar strategis pimpinan TNI AD sebagai Koordinator Sekretaris Pribadi KSAD. Ia juga sukses memimpin wilayah sebagai Danrem 012/Teuku Umar, serta membentuk generasi perwira masa depan sebagai Danmentar Akmil—jabatan yang mengantarkannya menyandang pangkat Brigadir Jenderal.

 

Puncak pengabdian itu kini terpatri saat ia dipercaya memimpin Kopassus sebagai Panglima dengan pangkat Letnan Jenderal. Sebuah posisi yang tidak hanya menuntut keberanian, tetapi juga visi besar dalam menjaga kehormatan dan kesiapsiagaan pasukan elit Indonesia.

 

Yang semakin menegaskan keistimewaannya adalah kepemilikan brevet langka Master Parachutist Badge dari US Army. Brevet ini bukan sekadar penghargaan, melainkan simbol keahlian tingkat tinggi dalam operasi lintas udara. Untuk meraihnya, seorang prajurit harus menyandang kualifikasi jump master dan menyelesaikan sedikitnya 65 kali penerjunan—termasuk puluhan lompatan dengan perlengkapan tempur lengkap. Sebuah pencapaian yang hanya bisa diraih oleh prajurit dengan disiplin ekstrem, keberanian, dan ketahanan mental luar biasa’.

Letjen TNI Djon Afrinadi bukan hanya pemimpin militer – iya adalah inspirasi jejak langkahnya adalah bukti bahwa kehormatan tidak datang secara instan melainkan ditempat melalu dedikasi pengorbanan dan loyalitas kepada bangsa dan Negara.

Dalam diri nya terpatri semangat Baret merah berani’ setia dan tak tergoyahkan.. Red Andi putra.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *